Era Digital dan Warganya yang “Pemarah”

social-support
sumber foto: blog.medialabs.in
Internet sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat Indonesia. Berdasarkan data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2014, populasi pengguna internet di Indonesia mencapai 88,1 juta pengguna. Masih dari data APJII 2014; 87,4% mengaku menggunakan internet untuk media sosial. Itulah sebabnya media sosial seringkali dijadikan ruang percakapan isu-isu publik. Menanggapi isu yang beredar, tak jarang netizen sering tersulut emosi dan mengungkapkan kemarahannya. Apabila dulu netizen meluapkan kemarahannya melalui unjuk rasa dan petisi, sekarang melawan ketidakadilan melalui kebaikan (penggalangan donasi).

Dikutip dari data APJII 2014, ada dua alasan utama orang Indonesia menggunakan internet: sebagai sarana komunikasi (72%) dan sumber informasi harian (65%). Dua hal inilah yang menyebabkan netizen Indonesia menaruh perhatian yang besar terhadap isu-isu yang beredar di media sosial. Pembentukan opini publik pun mengalami pergeseran. Jika dulu opini publik dipengaruhi oleh media massa tradisional -koran, majalah, radio, dan televisi-, sekarang media sosial memegang peranan yang penting.

Selain untuk mempengaruhi opini publik, media sosial juga sering digunakan untuk “memainkan” kemarahan publik untuk memobilisasi massa. Demonstrasi besar-besaran untuk melawan rezim Hosni Mubarak di Mesir merupakan bukti kehebatan media sosial. Melalui internet, informasi dapat dengan mudah menyebar dan mempengaruhi perilaku puluhan juta orang.

It only takes one person and one act of kindness to inspire others and create change.

Bicara soal memobilisasi massa, tampaknya sekarang karakter netizen sudah berubah. Kemarahan atas ketidakadilan tidak lagi diluapkan hanya melalui unjuk rasa dan petisi, sekarang melawan ketidakadilan melalui kebaikan (penggalangan donasi). Hal ini ditunjukkan dari banyaknya jumlah pengguna dan donasi terkumpul dari situs Kitabisa.com yang merupakan platform penggalangan dana dan donasi terbesar di Indonesia. Jumlah pengguna yang bergabung mencapai lebih dari 86 ribu users dan total donasi terkumpul hingga 16 miliar rupiah.

Demikian juga, ketika netizen mendapatkan kabar adanya razia rumah makan di Serang milik Saeni yang dilakukan oleh Satpol PP karena membuka warungnya pada siang hari ketika bulan puasa. Spontan, insiden ini memicu kemarahan publik. Alih-alih hanya mengeluarkan hate speech, netizen bahu-membahu melakukan aksi filantropi, melakukan penggalangan dana untuk Saeni.

Gerakan filantropi ini awalnya diinisiasi oleh Stand Up Comedian Dwika Saputra melalui akun Twitter-nya @DwikaPutra. Dalam waktu 36 jam sejak donasi dibuka, total dana yang terkumpul sekitar 265 juta rupiah yang akan dipergunakan untuk membantu Saeni dan pemilik warung lainnya yang juga terkena razia.

Berkaca dari kisah tersebut, saya masih yakin jiwa toleransi dan budaya gotong royong yang berasal dari nenek moyang kita masih terasa sangat nyata di kehidupan kita sekarang. Let’s do a good cause in digital era!

“I believe that every human mind feels pleasure in doing good to another,”-Thomas Jefferson.

Advertisements

2 thoughts on “Era Digital dan Warganya yang “Pemarah””

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s