Uber dan Solusi Kemacetan Urban

traffic jam
sumber foto: youtube.com

Menerima perubahan memang tidak pernah mudah. Sama halnya dengan masalah transportasi, sulit rasanya untuk menerima ‘kemudahan’ yang ditawarkan oleh kemajuan teknologi, dalam hal ini aplikasi smartphone. Padahal, masalah kemacetan merupakan hal krusial yang dihadapi oleh kaum urban. Setiap tahunnya, masyarakat Amerika terjebak dalam kemacetan lalu lintas selama 7 milyar jam. Bukan hanya di Amerika, semua kota besar di dunia juga mengalami masalah yang sama, kemacetan lalu lintas. Akar dari permasalahan ini berujung pada suatu pemikiran bahwa setiap orang ‘merasa harus’ memiliki kendaraan pribadi untuk mempermudah akses mereka dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Bagaimana bila ada solusi lain yang lebih baik, seperti berbagi kendaraan mungkin?

Lebih dari 100 tahun yang lalu sebelum ada Uber, tepatnya pada tahun 1914, seorang mantan salesman dari Los Angeles LP Draper menciptakan konsep angkutan bersama (carpooling) dengan menggunakan mobil pribadi miliknya untuk mengambil penumpang. Usaha ini bernama Jitney. Dalam setahun, Jitney telah berkembang dengan total pengemudi mencapai 62.000 dan beroperasi di 175 kota di Amerika. Sayangnya, tekanan dari perusahaan kompetitor seperti perusahaan taksi dan perusahaan rental ‘memaksa’ pemerintah menciptakan regulasi untuk menjegal pertumbuhan Jitney. Hasilnya, pada tahun 1918, jumlah mobil Jitney yang beroperasi menurun hingga 90% dan dalam beberapa tahun berikutnya, Jitney pun hilang dari peredaran.

Disruptive innovations are bound to challenge existing business models.

Kota-kota besar di dunia telah berhadapan dengan masalah kemacetan selama puluhan tahun. Bahkan, di kota yang sangat modern dalam hal transportasi umum, seperti New York, masih ada sekitar 2,5 juta mobil yang berada di jembatan-jembatan kota tersebut. Apakah ada cara untuk mengurangi jumlah mobil tersebut? Dalam seminarnya di TED Talk, co-founder Uber Travis Kalanick menjelaskan bahwa banyak orang menggunakan Uber untuk tujuan yang kurang lebih searah. Bagaimana jika Uber mencocokkan dua tujuan yang kurang lebih sama? Selain harganya yang akan menjadi lebih murah -50% dari harga normal-, tentu saja jumlah mobil yang berada di jalan akan berkurang. Inilah yang mendasari Travis meluncurkan layanan baru dari Uber yaitu, UberPOOL.

Sejak diperkenalkan di Los Angeles delapan bulan yang lalu, UberPOOL telah mengurangi 7,9 juta mil perjalanan yang ditempuh oleh mobil dan mengurangi 1,4 juta metrik ton karbondioksida. Hasil ini merupakan dukungan dari 100.000 warga Los Angeles yang telah menggunakan layanan UberPOOL setiap minggunya saat ini. Bukan hanya di Los Angeles, jumlah pengguna UberPOOL di Tiongkok juga jauh lebih besar lagi yaitu mencapai 3,5 juta setiap minggu. Travis menekankan, dengan teknologi yang ada di kantong kita (smartphone), kita bisa mengurangi kemacetan, polusi, dan mencari cara yang lebih baik agar kota dapat bekerja, bergerak, dan berkembang.

Dan mungkin semua persoalan kemacetan yang kita hadapi saat ini bisa dijawab oleh Jitney. Seperti apakah kota yang kita tinggali apabila Jitney masih ada? Apakah kita akan punya taman yang lebih banyak ketimbang tempat parkir? Apakah udara kita akan jauh lebih bersih? “Kita memang kehilangan kesempatan untuk mengetahui itu, namun teknologi memungkinkan kita untuk mendapatkan kesempatan kedua untuk mewujudkannya,” tutup Travis.

Tulisan ini disarikan dari seminar Travis Kalanick di TED Talk yang berjudul: Uber’s plan to get more people into fewer cars.

Video lengkapnya:

Advertisements

4 thoughts on “Uber dan Solusi Kemacetan Urban”

  1. Wah bisa bareng gitu ngebahas Uber. Cuma selisih 3 menit aja postingnya bung Mike.

    Overall saya setuju bahwa kehadiran Uber dan juga teman-temannya yang lain adalah sebuah bentuk disruptive innovations yang sebenarnya bertujuan baik. Pada akhirnya konsumen dan secara umum masyarakatlah yang akan lebih diuntungkan. Namun dalam persaingan bisnis, apapun bisa terjadi.

    (Ijin untuk placing link) Pendapat saya lebih lengkapnya bisa dibaca di tulisan saya :

    https://fakhrurrojihasan.wordpress.com/2016/03/14/memandang-aplikasi-transportasi-dari-berbagai-perspektif/

    Like

  2. ini yang lagi rame di Jakarta, pada demo taksi kopaja dan lain2 kan,

    menurut gw inovasi harus didukung, tinggal cara mainnya aja, pemerintah juga jangan langsung melarang/melegalkan, tapi setidaknya ngasih penjelasan yang jelas di setiap aturannya.. plus sosialisasi ke masyarakat khususnya ke pengguna dan penyedia jasa transportasi.

    baik dan buruknya kalau salah satu di implementasi, tugas besar dan gak gampang, tapi kan mereka emang ditugaskan untuk itu.. membuat aturan

    Like

    1. Yup, setuju. Karena memang lebih mudah membenci daripada memahami. Jadi, daripada ribet-ribet bikin payung hukum dan regulasi untuk mendukung inovasi, kan lebih mudah melarang, bukan? 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s