Cinta Bukan Soal Kamu Milik Aku, Aku Milik Kamu

Sumber foto: radicalselflove333.wordpress.com
Sumber foto: radicalselflove333.wordpress.com

Saya kira sejak dihapuskannya perbudakan pada tahun 1956, setiap manusia memiliki kemerdekaan atas hidupnya. Nyatanya, atas nama cinta, banyak orang merasa berhak atas hidup orang lain. “Aku gak suka kamu main sama temen kamu”, “Aku gak suka kamu terlalu sibuk sama hobi kamu”, dan banyak model pelarangan lainnya. Apakah cinta berarti menggenggam pasangan dengan erat? Apakah benar kamu milik aku seutuhnya?

Kita tidak pernah memiliki pasangan kita.

Mungkin konsep ini terdengar aneh bagi sebagian orang. Kita terbiasa menganggap apabila kita sudah berpacaran atau menikah, orang tersebut akan menjadi milik kita seutuhnya. Kita pun merasa berhak untuk mengontrol hidup pasangan kita hingga akhirnya kita lupa dia adalah pribadi yang bebas. Pandangan ini yang pelan-pelan membuat kita menjadi orang yang posesif dan berusaha untuk menggenggam erat pasangan kita. Bukan cuma pasangan kita yang lama-lama menjadi jengah dan kesal, diri kita sendiri pun tidak bahagia dan penuh rasa curiga.

“Love one another, but let’s not try to possess one another,”- Paulo Coelho.

Seorang filsuf dari Perancis Simone de Beauvoir memandang cinta dari sudut pandang yang berbeda. Di mata Simone, hubungan percintaan berarti hubungan yang berisi dua orang dewasa yang bebas dan setara satu sama lain. Dalam hubungan ini, masing-masing pihak bekerja sama, saling menghargai, dan saling mendukung satu sama lain untuk berkembang. Selain itu, masing-masing pihak juga memberikan kepercayaan penuh kepada pasangannya.

Dengan adanya kepercayaan penuh, setiap orang di dalam hubungan itu merupakan manusia yang dewasa dan bebas. Konsep yang diajarkan Simone selaras dengan konsep cinta yang pernah dijelaskan oleh teman saya,”Jika saya mencintai kamu, saya MEMILIH untuk bersama kamu walaupun saya bisa bersama wanita yang lain.” Dalam konsep ini berarti, saya bersama kamu atas PILIHAN SAYA dan tidak ada unsur paksaan. Sehingga menjadi tidak relevan apabila kamu memberikan larangan-larangan bagi pasangan kamu. Sebagai pasangan yang baik, kamu bertugas untuk mendukung dan memberikan nasihat. Namun, percayakan pasangan kamu untuk menentukan pilihannya sendiri. Apapun pilihan yang diambil, percayalah bahwa itu adalah pilihan terbaik bagi dirinya.

“Karena aku mencintai yang sewaktu-waktu pergi, yang sewaktu-waktu diambil, yang sewaktu-waktu mati. Dan aku menjadi belajar tentang melepaskan. Bahwa sebenarnya aku tidak pernah memiliki apa-apa,” – Kurniawan Gunadi, penulis buku.

Advertisements

5 thoughts on “Cinta Bukan Soal Kamu Milik Aku, Aku Milik Kamu”

  1. Perspektif menarik yang mencerahkan. Menjadi pengingat bagi saya untuk senantiasa mengapresiasi kebebasan pasangan.

    Tapi bagaimanapun juga ada beberapa aspek2 pengikat yang harus dihargai dari keterikatan sebuah hubungan.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s