Pelajaran Sukses dari Kebudayaan Sawah

sumber foto: dailymail.co.uk

Seringkali kita memandang kesuksesan secara dangkal. Kita terjebak di dalam mitos bahwa orang yang sukses itu adalah orang terbaik, terpintar, dan yang paling berbakat. Nyatanya, kesuksesan tidak bekerja seperti itu. Kesuksesan adalah hadiah bagi mereka yang telah diberi kesempatan dan memiliki kekuatan serta kegigihan untuk meraihnya. Selain itu, faktor warisan budaya ternyata memiliki andil yang besar dalam menentukan kesuksesan. Warisan ini dibentuk dari sebuah tradisi pertanian yang terdiri dari dua atau tiga petak sawah ratusan tahun yang lalu.

Setiap empat tahun sekali, sekelompok pengajar internasional mengadakan sebuah ujian matematika dan ilmu pengetahuan yang komprehensif kepada anak-anak SD (4th grade) dan SMP (8th grade) di seluruh dunia. Tes ini disebut sebagai The Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS). Tujuan dari tes ini adalah untuk membandingkan keberhasilan pendidikan satu negara dengan yang lainnya. Pada TMISS 2011, terungkap bahwa lima negara peraih nilai matematika tertinggi berasal dari Asia. Kelima negara tersebut adalah Singapura, Korea Selatan, Hong Kong, Taiwan, dan Jepang. Tentu saja kesamaan dari kelima negara itu ada pada warisan kebudayaan yang terbentuk dari tradisi pertanian ratusan tahun yang lalu. Kelima negara tersebut adalah tempat dimana selama ratusan lamanya, petani yang miskin bekerja keras di sawah selama tiga ribu jam setiap tahunnya.

Tidak ada makanan tanpa darah dan keringat.

Padi telah ditanam di Tiongkok selama ribuan tahun lamanya. Dari sanalah, berbagai teknik penanaman padi menyebar ke seluruh Asia Timur – Jepang, Korea, Singapura, dan Taiwan. Karena kehidupannya yang miskin, petani Asia meningkatkan hasil panen dengan menjadi lebih cerdas, membagi waktu dengan lebih baik, dan bekerja sangat keras. Bekerja di sawah dimulai dari subuh dan dihabiskan dengan membungkuk di bawah terik matahari, menanam, dan mencabuti rumput-rumput liar di sawah. Kurang lebih petani Asia menghabiskan waktu di sawah sekitar tiga ribu jam setiap tahunnya.

Pelajaran kerja keras pada bangsa Asia sudah dimulai sejak jaman nenek moyang mereka. Ada hubungan yang jelas di dalam bertani antara usaha dan hadiah. Semakin keras kamu bekerja di sawah, maka semakin besar pula hasilnya. Bekerja sangat keras adalah hal yang dilakukan oleh orang sukses. Dan pelajaran ini sudah mengakar kuat yang terbentuk dari lahan sawah yang penuh dengan ketidakpastian dan kemiskinan yang luar biasa. Hingga akhirnya membentuk karakter sebuah negara yang menjunjung tinggi kerja keras dan penghargaan atas prestasi.

Ada sebuah ucapan yang biasa dikatakan oleh sesama petani Asia yang mencerminkan karakter mereka,”Tidak ada seorang pun yang bangun sebelum subuh selama tiga ratus enam puluh hari dalam satu tahun tidak mampu membuatnya keluarganya kaya raya.”

Tulisan disarikan dari buku: Outliers, karya Malcolm Gladwell, cetakan keenam Januari 2015, terbitan Gramedia Pustaka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s