Sisi Lain dari Kecanduan yang tidak Kamu Ketahui

Sumbe foto: huffingtonpost.com
Sumbe foto: huffingtonpost.com
Sudah lebih dari 100 tahun yang lalu sejak narkoba dilarang beredar di Amerika Serikat dan Inggris, kemudian pelarangan itu diikuti oleh seluruh dunia. Barang siapa yang memiliki, mengkonsumsi, dan mengedarkan narkoba akan diberikan hukuman berat. Walaupun pendekatan melalui hukuman terlihat bagus, nyatanya tidak efektif dalam menekan tingkat peredaran narkoba. Lantas, apa yang salah sebenarnya? Seorang penulis dari Inggris Johann Hari dalam TED Talk menjelaskan, dalam memahami kecanduan, kita perlu melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Pengalaman Johann memiliki salah satu anggota keluarga yang menjadi pencandu, membuat Johann berpergian sejauh 30.000 mil untuk bertemu berbagai orang dari belahan dunia untuk mencari tahu, apa itu kecanduan? Apakah ada cara yang lebih baik untuk mengobati pecandu?

Johann memberikan contoh tentang pemahaman kita yang salah selama ini tentang narkoba. Coba bayangkan, selama 20 hari ke depan, kita diperbolehkan secara legal untuk menggunakan heroin tiga kali sehari. Menurut kamu, apa yang terjadi? Tentu saja, kita pikir, setelah 20 hari, tubuh kita akan bergantung pada heroin dan menjadi pencandu. Tapi, apakah itu benar? Johann mengatakan, untuk menjawab hal itu benar atau salah, coba bayangkan contoh lain, suatu ketika saya tiba-tiba ditabrak mobil dan pinggang saya patah. Saya akan dibawa ke rumah sakit dan diberikan diamorphine dalam jumlah banyak. Diamorphine adalah heroin yang kandungannya jauh lebih baik dibandingkan heroin manapun yang dijual secara ilegal, karena heroin yang dijual secara ilegal sudah terkontaminasi sedangkan diamorphine adalah heroin murni. Walaupun saya diberikan heroin dalam jumlah banyak, tentu hal itu tidak menjadikan saya sebagai pencandu setelah saya selesai melewati masa pengobatan, bukan? Apabila heroin tidak menyebabkan kecanduan, lantas apa yang meyebabkan kecanduan?

And I think the core of that message – you’re not alone, we love you – has to be at every level of how we respond to addict.

Johann mulai memahami bagaimana candu bekerja setelah bertemu dengan Bruce Alexander, profesor psikologi dari Vancouver, Inggris. Pada tahun 1970-an, profesor Alexander melakukan penelitian bagaimana candu bekerja dengan membagi tikus dalam dua percobaan. Dalam percobaan pertama, seekor tikus diasingkan sendirian di dalam kandang. Dalam percobaan kedua, tikus dimasukan dalam sebuah kandang yang diberi nama ‘Taman Tikus’. Di kandang ini, tersedia banyak keju, banyak tikus-tikus lainnya, banyak terowongan, dan banyak hal menarik lainnya. Di dua percobaan tersebut, Profesor Alexander memberikan dua jenis air, air biasa dan air yang sudah dicampur heroin atau ganja. Hasilnya, pada percobaan pertama dimana tikus dikurung sendirian, tikus itu memilih air yang sudah dicampur heroin atau ganja, dan mati dengan cepat. Sedangkan, pada percobaan kedua, tikus-tikus itu hampir tidak pernah meminum air yang sudah dicampur heroin dan ganja. Penelitian ini membuktikan, apabila tikus-tikus ini bahagia dan punya hubungan yang baik dengan sesamanya, kecil kemungkinan tikus tersebut untuk menggunakan heroin atau ganja hingga overdosis dan mati.

Selain penelitian dengan menggunakan tikus, ada percobaan lain yang dilakukan setelah perang Vietnam selesai. Diperkirakan 20% dari tentara Amerika Serikat yang bertugas disana merupakan pengguna heroin dalam jumlah banyak. Hal ini tentu mengkhawatirkan mengingat akan ada ratusan hingga ribuan pencandu yang akan kembali pulang ke Amerika Serikat. Kenyataannya, 95% dari tentara tersebut berhenti mengkonsumsi heroin setelah mereka pulang, bahkan tanpa melakukan rehabilitasi. Kenyataan ini mematahkan pemahaman kita soal narkoba. Profesor Alexander menyatakan, bagaimana jika kecanduan itu bukan soal zat kimia yang terkandung dalam narkoba? Bagaimana jika kecanduan itu soal hubungan sosial?

We are designed to connect. If we can’t bond with other people, we bond with the source of our addiction.

Ada penelitian menarik tentang cara untuk menekan pertumbuhan narkoba. Pada tahun 2000, 1% dari penduduk Portugal merupakan pencandu heroin. Setiap tahunnya, Portugal menghukum dan mempermalukan pencandu yang tertangkap, dan anehnya permasalahannya malah semakin buruk. Suatu hari, perdana menteri Portugal menunjuk Dr. João Goulão untuk melakukan sebuah penelitian. Hasilnya mengejutkan, Portugal melepaskan semua pecandu dari penjara, dan mengalihkan anggaran yang sebelumnya digunakan untuk menghukum mereka, menjadi anggaran untuk membantu mereka kembali ke masyarakat.

Selanjutnya, Dr. João membuat lowongan pekerjaan besar-besaran dan memberikan pinjaman usaha bagi para pencandu. Tujuan dasarnya yaitu agar pecandu dapat menemukan kembali tujuan hidup mereka dan memperbaiki hubungan mereka dengan masyarakat. 15 tahun setelah sistem ini dijalankan, hasilnya signifikan. Berdasarkan British Journal of Criminology, penggunaan narkoba melalui jarum suntik berkurang hingga 50%, kasus overdosis dan HIV juga berkurang drastis.

Kesimpulannya, kecanduan bukan soal zat kimia yang adiktif, kecanduan itu soal kesepian. Secara alamiah, manusia mempunyai naluri untuk terkoneksi satu sama lain. Namun, apabila manusia itu tidak dapat terkoneksi dengan orang lain, manusia itu akan terikat oleh hal lain yang bisa digunakannya untuk lari dari kenyataan, entah itu berjudi, online gaming, pornografi, ganja, heroin, dan lain sebagainya. Karena pada dasarnya, yang kita butuhkan sebagai manusia adalah untuk berhubungan dan terkoneksi satu sama lain.

For 100 years now, we’ve been singing war songs about addicts. I think all along we should have been singing love songs to them, because the opposite of addiction is not sobriety. The opposite of addiction is connection – Johann Hari.

Tulisan ini disarikan dari seminar Johann Hari di TED Talk yang berjudul: Everything you know about addiction is wrong.

Video lengkapnya:

Advertisements

4 thoughts on “Sisi Lain dari Kecanduan yang tidak Kamu Ketahui”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s