‘Bermain’ dengan Rasa Takut dan Mencoba Hal Baru

sumber foto: shermanwealth.com
Hampir keseluruhan dalam fase hidup manusia dipengaruhi oleh rasa takut. Entah karena takut ketinggalan jaman, takut tidak punya uang, takut dibilang bodoh, dan sebagainya. Sehingga, kita terbiasa hidup berdasarkan pengakuan dari orang lain dan terperangkap di dalam zona nyaman. Perubahan sebisa mungkin kita hindari, karena kita takut apabila mencoba hal yang baru malah kita gagal dan dianggap aneh oleh orang lain. Sebagai orang yang ‘sering gagal’, seorang komika Adriano Qalbi bercerita tentang pengalamannya ‘bermain’ dengan rasa takut dari soal tujuan hidup hingga soal hubungan percintaannya.

Dalam sesi sharing di komunitas Sane Step, Adriano memulainya dengan bercerita soal dirinya yang terbiasa menjadi ‘mantan’. Adriano merupakan mantan karyawan di sebuah advertising agency, mantan penyiar radio, dan mantan host sebuah acara dokumenter di KompasTV. Adriano merupakan orang yang terbiasa mencoba hal yang baru, hingga akhirnya memutuskan untuk menjadi stand up comedian (untuk saat ini).

When everyone claps their hands for your success, but deep inside you just feel empty, there is something wrong with you. – Adriano Qalbi

Dengan jujur, Adriano bercerita bahwa dulu hidupnya dikendalikan oleh rasa takut dan selalu membutuhkan validasi dari orang lain. Rasa ‘ingin diakui’ oleh orang lain merupakan energi yang luar biasa, energi itu yang mampu mendorong Adriano hingga mendapatkan berbagai penghargaan bergengsi pada tahun 2011 ketika bekerja di advertising agency seperti, Citra Pariwara hingga International Cannes Lions Awards. Namun, ketika sampai di posisi puncak, Adriano merasa hampa. Dia pun sadar, bahwa bekerja di advertising agency bukanlah apa yang dia mau, selama ini dia hanya melakukannya demi sebuah validasi dari orang lain. Hingga akhirnya, Adriano memutuskan untuk mengundurkan diri dan menekuni dunia yang dia suka yaitu stand up comedy.

Selain soal tujuan hidup, Adriano juga bercerita soal pengalamannya mengalahkan rasa takut dalam hubungan percintaan. Adriano dulunya mempunyai ketakutan akan komitmen. Pernah suatu ketika, Adriano sudah berpacaran selama lima tahun, bahkan sudah bisa melewati fase hubungan dimana harus melakukan LDR (long distance relationship). Kedua orang tua mereka pun sudah menyetujuinya, namun ketika orang tua pasangannya terlihat ingin segera menikahkan mereka, muncul ketakutan dalam diri Adriano, hingga akhirnya Adriano memutuskan wanita tersebut. Dan, siklus ini pun terjadi beberapa kali, Adriano takut apabila menemukan wanita yang lebih mencintai dirinya dan ‘memaksa’ untuk segera menikah. Hingga akhirnya, Adriano mampu mengalahkan rasa takutnya akan komitmen dan memutuskan untuk menikah. Adriano menegaskan, menikah bukan soal umur dan usia hubungan yang sudah terlanjur lama, tapi menikah adalah soal “saya mencintai dia dan dia adalah wanita yang saya pilih”.

overcoming-fear
sumber foto: askhulk.blogspot.com
Setelah berhasil melewati masa-masa pergumulannya dengan rasa takut, Adriano memberikan beberapa tips dalam menghadapi rasa takut. Ketika bicara soal rasa takut, hal pertama yang harus dilakukan adalah, menyadari bahwa rasa takut itu pasti ada. Jangan menyangkal rasa takut, karena semakin disangkal rasa takut akan semakin besar. Setelah menyadari, hal kedua yaitu, jangan biarkan dirimu dipengaruhi oleh rasa takut. Rasa takut hanyalah rasa takut, dan itu hanya sebuah ilusi yang selalu kamu putar di kepalamu. Hal ketiga yaitu, kelola ekspektasimu. Kamu harus sadar tidak selamanya apa yang kamu inginkan akan menjadi kenyataan. Dan pada akhirnya, kamu harus membiasakan diri hidup dengan ‘ketidaksempurnaan’ itu.

Adriano menambahkan, kita harus memiliki keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan jiwa. Ketika pikiran kita sudah mampu mengatasi rasa takut melalui beberapa tips di atas, Adriano mengingatkan, jangan pernah lupa untuk berolahraga dan mendengarkan suara hati. Karena ketika pikiran bekecamuk, tubuh dan jiwa harus membantu untuk menyelaraskan. Latihan mendengarkan suara hati bisa dimulai dengan berlatih duduk diam menyadari nafas dan menikmati keheningan. Dengan menikmati keheningan, akhirnya kita pun sadar bahwa pengakuan yang paling penting bukan berasal dari orang lain, tapi harus berasal dari diri sendiri.

Bagaimana denganmu? Apa ketakutan terbesarmu dan bagaimana kamu akhirnya mampu mengalahkan rasa takut tersebut?

Advertisements

9 thoughts on “‘Bermain’ dengan Rasa Takut dan Mencoba Hal Baru”

    1. Wah, sama dong, mas. Saya juga. Kalau mengambil kisah Chef Alit dan Holycow-nya, coba jalanin bareng antara usaha dan kerja. Namun, ketika usahanya sudah mulai sukses, baru berhenti kerja. Karena yang penting sudah bukan soal passion lagi, tapi dapur tetep ngebul. Hehehe.

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s