Berhentilah Menjadi ‘Ayam Super’ Individualis di Perusahaan

sumber foto: shway–dude.deviantart.com

Selama 50 tahun ke belakang, banyak perusahaan menganut paham ‘ayam super’ dalam merekrut karyawan. ‘Ayam super’ diibaratkan sebagai seorang karyawan yang memiliki IQ tinggi dan berkualitas tinggi. Namun, mantan CEO dari lima perusahaan yang berbeda Margaret Heffernan, dalam seminar TED Talk, berpendapat, keberhasilan dari sebuah perusahaan tidak ditentukan dari seberapa banyak karyawan individualis berkualitas tinggi, namun ditentukan dari ikatan emosional antar karyawan dalam perusahaan tersebut.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh ahli biologi dari Purdue University William Muir menjelaskan kenapa karyawan berkualitas tinggi yang individual malah merusak perusahaan. William melakukan penelitian dengan menggunakan ayam. Dalam penelitian tersebut, William membagi ayam-ayam menjadi dua grup yang dibiarkan hidup selama enam generasi. Grup pertama berisi ayam-ayam penghasil telur biasa, grup kedua berisi ayam-ayam unggul penghasil telur terbanyak diibaratkan dengan nama ‘ayam super’. Untuk grup kedua, William memilih hanya ayam dengan telur terbanyak yang dibiarkan menetas telurnya. Setelah enam generasi, grup pertama berisi ayam-ayam gemuk dan mengalami peningkatan jumlah produksi telur. Sedangkan, grup kedua hanya tersisa tiga ayam, sisanya telah mati karena masing-masing ayam mematuk ayam lainnya hingga mati. Kesimpulannya adalah, ayam super hanya mementingkan diri mereka sendiri dengan menekan produktivitas ayam yang lain.

Selama kita hidup, kita selalu didoktrin untuk berkompetisi satu sama lain. Masuk ke sekolah yang tepat, mendapatkan pekerjaan yang tepat, berusaha selalu menjadi nomor satu. Bagi Margaret, hal itu tidaklah tepat. Perlu adanya perubahan cara pandang agar setiap karyawan memiliki kehidupan yang lebih baik. Karena di masa-masa sulit, yang dibutuhkan setiap karyawan dalam perusahaaan adalah dukungan moral dari orang lain dan orang-orang yang bersedia membantu mereka.

sumber foto: mariefranceasia.com

Ada penelitian menarik yang dilakukan oleh peneliti dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) terkait grup yang memiliki tingkat produktivitas yang tinggi. Peneliti dari MIT membagi ratusan sukarelawan dalam beberapa grup dan memberikan mereka soal yang sangat sulit. Yang menarik adalah, grup-grup yang mampu menyelesaikan soal tersebut tidak berisi orang-orang dengan IQ yang tinggi. Melainkan, ada tiga karakter yang dimiliki grup-grup tersebut: yang pertama, grup tersebut memiliki tingkat sensitivitas yang tinggi antar sesama anggota dalam tim, yang dapat diketahui melalui tes empati (Reading the Mind in the Eyes Test). Kedua, setiap anggota di dalam grup memiliki andil dan tidak ada yang mendominasi. Dan yang terakhir, grup tersebut memiliki lebih banyak wanita. Namun, perlu penelitian lebih lanjut mengenai korelasi antara wanita dengan keberhasilan grup, apakah karena wanita memiliki empati yang lebih baik atau karena wanita memberikan pandangan yang berbeda?

Kesimpulannya adalah, hubungan sosial masing-masing orang dalam grup menentukan keberhasilan grup. Grup yang berisi anggota yang saling membantu satu sama lain lebih baik dibandingkan dengan grup yang berisi anggota jenius dengan egoisme masing-masing. Rasa saling membantu akan muncul apabila setiap anggota dalam grup mengenal satu sama lain. Hal ini tidak terjadi secara normal dan harus dibentuk.

Sebagai contoh, ketika profesor dari MIT Alex Pentland menyarankan sebuah perusahaan untuk menggabungkan semua coffee break agar setiap karyawan memiliki waktu untuk berbicara satu sama lain, keuntungan perusahaan meningkat sebanyak 15 juta dolar dan tingkat kepuasan karyawan meningkat sebanyak 10 persen. Pada akhirnya, perusahaan yang berhasil adalah perusahaan yang memiliki hubungan sosial yang baik di antara para karyawannya.

Companies don’t have ideas, only people do. And what motivates people are the bonds, loyality, and trust they develop between each other – Margaret Heffernan.

Tulisan ini disarikan dari seminar Margaret Heffernan di TED Talk yang berjudul: Why it’s time to forget the pecking order at work

Video lengkapnya:

Advertisements

3 thoughts on “Berhentilah Menjadi ‘Ayam Super’ Individualis di Perusahaan”

  1. Wah, mungkin bisa jadi wanita lebih telaten daripada laki-laki. 😀

    Tapi memang sekarang ini teamwork lebih penting daripada kemampuan individu. Iya betul bahwa kemampuan individu penting. Tapi bukan satu2nya faktor. 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s