Jeritan Hati Pejuang Wanita terhadap Pernikahan di bawah Umur

sumber foto: adesojiadegbulu.com
Di Malawi, separuh dari populasi gadis disana menikah di bawah umur 18 tahun. Dan, satu dari delapan gadis menikah di bawah umur 15 tahun. Kemiskinan dan tradisi merupakan alasan utama gadis Malawi dipaksa untuk menikah pada usia muda. Sejak Februari 2015, semua itu telah berubah. Seorang aktivis hak wanita Memory Banda berhasil meyakinkan anggota dewan dan presiden Malawi untuk mengeluarkan larangan pernikahan di bawah umur 18 tahun. Dalam acara TED Talk, Memory bercerita tentang kisah hidupnya dan keadaan gadis Malawi dalam menghadapi pernikahan di bawah umur.

Ketika seorang gadis Malawi pertama kali mengalami pubertas, maka gadis tersebut harus menjalani sebuah ritual yang disebut kusasa fumbi, yang artinya tradisi ‘pembersihan seksual’. Tradisi ini memaksa seorang gadis untuk berhubungan seksual dengan pria yang lebih tua. Dikenal dengan sebutan hyena, pria itu dibayar oleh masyarakat desa untuk mengajarkan seorang gadis bagaimana memuaskan seorang pria untuk mempersiapkan gadis tersebut untuk menikah. Kerap kali, tradisi ini berujung pada kehamilan yang tidak direncanakan dan infeksi HIV. Berdasarkan data dari Adolescent Girls’ Advocacy Network of Malawi, 10% dari populasi Malawi dinyatakan positif HIV.

Memory bercerita, ketika dia berumur 13 tahun dan dipaksa untuk menjalani ritual kusasa fumbi, dengan tegas dia menolak. Memory menyatakan, dia ingin sekolah dan mendapatkan pekerjaan yang baik di kemudian hari. Di Malawi, gadis yang tidak menjalani ritual kusasa fumbi, akan dicap buruk oleh masyarakat setempat. Gadis tersebut dianggap bodoh dan tidak menghormati tradisi yang sudah dijalankan selama bertahun-tahun.

sumber foto: girlsnotbride.org
Di Malawi, pernikahan dianggap sebagai jalan pintas untuk keluar dari kemiskinan. Apabila seorang pria ingin menikahi seorang gadis, maka pria tersebut harus membayar sejumlah uang kepada keluarga gadis tersebut. Pria tersebut juga bertanggung jawab atas hidup dari gadis yang dinikahinya, karena gadis yang dinikahinya sudah pasti tidak bekerja. Pernikahan di usia dini bukan hanya memupuskan masa depan gadis tersebut, tetapi juga meningkatkan resiko kematian ketika melahirkan dikarenakan tubuh gadis tersebut belum siap.

Sejak Februari 2015, Memory Banda melalui organisasi Girls Empowerment Network (Genet) berhasil meyakinkan dewan dan pemerintah Malawi untuk melarang pernikahan di bawah umur 18 tahun. Sanksi tegas akan diberikan kepada siapa yang melanggar. Fokus Memory dan organisasinya saat ini adalah mengedukasi para gadis yang sempat putus sekolah karena harus menikah dan memberikan mereka harapan akan masa depan yang lebih baik.

Tulisan ini akan saya tutup dengan sebuah puisi dari jeritan hati seorang gadis berumur 13 tahun yang tinggal di Malawi bernama Eileen Piri. Puisi ini berjudul: I’ll Marry When I Want.

I’ll Marry When I Want

My mother can’t force me to marry.
My father cannot force me to marry.
My uncle, my aunt,my brother or sister, cannot force me to marry.
No one in the world can force me to marry.
I’ll marry when I want.

Even if you beat me, even if you chase me away,
even if you do anything bad to me, I’ll marry when I want.
I’ll marry when I want,
but not before I am well educated, and not before I am all grown up.
I’ll marry when I want.

Tulisan ini disarikan dari seminar Memory Banda di TED Talk yang berjudul: A warrior’s cry against child marriage

Video lengkapnya:

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s