GO-JEK dan Reformasi Sistem Per-ojek-an Indonesia

Sumber foto: tabloidbintang.com
Mengubah sistem memang tidak pernah mudah. Reformasi yang dilakukan GO-JEK terhadap sistem per-ojek-an Indonesia boleh dibilang cukup ekstrim. Apabila pada jaman dahulu, pengojek tidak pernah berseragam rapi dan menggunakan sistem tawar menawar, sejak aplikasi GO-JEK hadir pada bulan Januari 2015 lalu, pengojek bertransformasi menggunakan seragam rapi dan menggunakan sistem argometer yang transparan. Walaupun banyak kompetitor yang iri dan berusaha keras menjatuhkan GO-JEK, saya yakin sistem ini akan berdampak positif bagi per-ojek-an Indonesia. Kehadiran GO-JEK seolah menjawab keinginan para konsumen akan sebuah ojek dengan harga yang fair dan cenderung lebih aman.

Reformasi yang dilakukan GO-JEK membangkitkan kembali ingatan saya akan buku ‘Sang Burung Biru’ yang berisi kisah perjalanan dari taksi Blue Bird. Saya melihat, reformasi dan masalah yang dialami oleh GO-JEK serupa dengan perjuangan taksi Blue Bird ketika awal berdiri. Dalam buku itu dikisahkan, saat awal berdiri, Blue Bird merupakan taksi pertama yang menggunakan tarif argometer. Sedangkan pada masa itu, taksi yang beroperasi menggunakan sistem tawar menawar dan cenderung tidak fair bagi penumpang. Reformasi tarif yang dilakukan, menjadikan Blue Bird sebagai primadona angkutan taksi, selain didukung tenaga pengemudi yang jujur, sopan, dan rapi. Alhasil, banyak taksi gelap yang tidak suka dan melakukan pengeroyokan pada supir Blue Bird saat itu.

The secret to change is to focus all of your energy, not on fighting the old, but on building the new – Socrates

Selain sambutan positif yang luar biasa dari para konsumen, sistem GO-JEK yang transparan dan fair juga menarik minat banyak orang untuk melamar menjadi pengojek GO-JEK. Berdasarkan perbincangan saya dengan pengojek GO-JEK ketika perjalanan pulang ke rumah, sebut saja namanya Anto, ada beberapa hal yang membuat banyak orang melamar jadi pengojek GO-JEK. Dijelaskan oleh Anto, menjadi pengojek GO-JEK sangat menyenangkan. Jika dahulu ketika Anto menjadi sales di salah satu provider telepon seluler dengan gaji kurang lebih 3 juta rupiah, sejak bergabung dengan GO-JEK, penghasilan Anto bisa mencapai 6 juta rupiah per bulan. Dalam sehari, Anto bisa melayani kurang lebih 10 pesanan.

Untuk bergabung menjadi pengojek GO-JEK pun mudah, cukup membawa Kartu Keluarga (KK) dan KTP, nantinya area cakupan pengojek GO-JEK akan disesuaikan dengan domisili tempat tinggal. Selain itu, menjadi pengojek GO-JEK dipermudah dengan fleksibilitas waktu kerja. Pengojek GO-JEK juga bisa memilih pesanan mana yang ingin diambil. Dengan antusias, Anto bercerita bahwa, ke depannya GO-JEK akan memiliki program pembelian motor baru untuk para pengojeknya, bekerja sama dengan salah satu vendor motor di Indonesia. Anto berencana akan mengikuti program tersebut, mengingat motornya juga sudah usang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s