REVIEW: Stand Up Comedy #HAPPINEST (2015)

Sumber foto: @piokharisma
Sumber foto: @piokharisma
Life is too short to be unhappy. Hal itulah yang mendasari komika kawakan Ernest Prakasa untuk menyelenggarakan tur nasional ketiganya yang berjudul: #HAPPINEST. Selama 1,5 jam; sekitar 1.000 lebih penonton di Balai Sarbini pada 6 Juni lalu dibuat terpingkal-pingkal oleh cerita jenaka Ernest dan para opener-nya. Pada tur kali ini, Ernest banyak bercerita hal-hal yang membuat dia bahagia, yaitu keluarga kecilnya -istri dan dua anaknya-.

Saya pribadi menyukai komposisi pemilihan opener yang membuka tur #HAPPINEST Jakarta. Penampilan pertama dibuka oleh seorang muslimah, Sakdiyah Ma’ruf. Kemudian dilanjutkan dengan seorang wanita cuek blak-blakan yang merupakan personil grup Dekat, Chevrina Anayang. Dilanjutkan dengan seorang bule yang merupakan celeb youtube, Sasha Stevenson. Dan ditutup oleh seorang pria dari generasi muda komika Indonesia, Ardit Erwandha. Bagi saya, komposisi ini menyiratkan pesan bahwa semua perbedaan akan hilang dan bercampur dalam sebuah tawa. Selain itu, dengan komposisi seperti itu, membuat #HAPPINEST menjadi sangat kaya materi karena disajikan dalam pelbagai sudut pandang.

Berbeda dengan tur sebelumnya pada tahun 2014 yang berjudul #ILLUCINATI yang penuh muatan politik, pada tur #HAPPINEST, materi yang dibawakan justru lebih ringan. Dengan jujur dan ‘telanjang’, Ernest banyak bercerita mengenai dirinya sendiri dan keluarganya. Ernest bercerita pengalamannya yang cukup memalukan ketika mencoba pemandian air panas di Jepang (onsen), dimana Ernest tidak boleh memakai sehelai benang pun dan berendam bersama para pria lainnya. Kemudian, Ernest juga bercerita tentang pengalamannya ‘pulang kampung’ pertama kali ke Tiongkok dan dibayari oleh orang India (rumah produksi Star Vision ketika syuting film Kukejar Cinta ke Negeri Cina). Saat ke Tiongkok, Ernest bercerita tetang pengalamannya menjumpai kotoran manusia yang bertumpuk-tumpuk karena tidak disiram di toilet stasiun kereta api.

Sumber foto: @piokharisma
Sumber foto: @piokharisma
Selain pengalaman pribadi, Ernest juga bercerita tentang anak perempuannya yang pertama, Sky Tierra Solana. Ernest bercerita tentang sulitnya mengajarkan konsep agama kepada Sky yang sudah berusia lima tahun. Walaupun Sky paham konsep Tuhan, namun sulit bagi Sky untuk memahami konsep multi agama. Dengan penuh humor, Ernest juga mengungkapkan penyesalannya telah mem-framing Sky kentut di dalam lift Pondok Indah Mall ketika Sky berumur dua tahun.

Sukses terus untuk Ernest di dunia Stand Up Comedy! Tetaplah menghibur, karena tertawa tidak mengenal warna kulit!

Kebahagiaan yang dibagi adalah kebahagiaan yang sejati. – Ernest Prakasa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s