Merry Riana Movie (2014): Mimpi, Kerja Keras, dan Realita

Sumber foto: sidomi.com
Sumber foto: sidomi.com
Setelah menonton filmnya, saya akhirnya menyadari kenapa banyak orang terinspirasi oleh kisah hidup Merry Riana. Jujur saja, sebelumnya saya memang tidak pernah membaca bukunya. Tapi, selama 105 menit, saya salut akan kegigihan dan semangat Merry dalam menghadapi kerasnya hidup. Semua yang kelihatannya seperti mimpi, ternyata memang bisa jadi kenyataan. Semua yang kelihatan sangat buruk, ternyata memunculkan kemungkinan – kemungkinan tanpa batas. Tapi, hidup memang tak pernah mengenal kata ‘seandainya’. Menerima kenyataan, bekerja keras dan berbuat baik, niscaya hidup akan menjadi lebih baik.

Pada awal film, latar yang diangkat adalah soal kerusuhan tahun 1998. Sekilas kenangan buruk masa lalu muncul kembali di ingatan saya ketika adegan demi adegan muncul. Saat itu, khususnya di Jakarta, etnis non pribumi berbondong – bondong melarikan diri dari Indonesia salah satunya yaitu Merry dan keluarga, meninggalkan rumah mereka dengan papan nama bertuliskan “MILIK PRIBUMI” untuk menghindari penjarahan. Dalam perjalanan menuju bandara, sebagai upaya keselamatan Merry dan keluarga juga terpaksa membayar mahal demi menumpangi mobil ambulans untuk mencegah pencegatan dan penjarahan di jalan. Saya pun merinding melihat adegan tersebut.

Sumber foto: movieholictasikmalaya.blogspot.com
Sumber foto: movieholictasikmalaya.blogspot.com
Karena uang yang tersisa hanya mampu membeli satu tiket ke Singapura, alhasil Merry terpaksa harus sendirian pergi kesana untuk keselamatan dirinya. Sendirian di negara orang dengan uang seadanya tak membuat Merry putus asa. Beruntungnya, salah satu teman SMA-nya, Irene, sedang kuliah disana. Dengan bantuan Irene, Merry mencari celah untuk tinggal di Singapura yang ketat. Dari tinggal di asrama, mendapatkan pinjaman untuk kuliah, mencari penjamin hingga akhirnya berkuliah di salah satu perguruan tinggi terbesar di Singapura. Bagi Merry, Irene adalah seorang ‘malaikat’ dan teman terbaik yang dia punya. Walaupun banyak konflik dan drama sepanjang film, namun pertemanan Merry dan Irene menegaskan bahwa seorang teman sejati akan selamanya berada di sisimu, seburuk apapun keadaan yang kamu hadapi.

Di film ini, saya juga menangkap adanya ‘sentilan’ untuk sistem pendidikan di Indonesia. ‘Sentilan’ ini dengan sangat baik digambarkan ketika Irene berkata,”Singapura tergolong negara yang cukup toleransi soal pendidikan. Buktinya mereka memberikan pinjaman untuk siswa, bahkan buat kita yang warga negara asing. Coba kalau di Indonesia?” Untuk di Indonesia sendiri, pinjaman siswa (student loan) memang masih asing, saat ini baru ada dua yayasan yang berkomitmen pada program tersebut yaitu Putera Sampoerna Foundation (PSF) dan Yayasan Sosial Bina Sejahtera (YSBS) Cilacap. Padahal dengan model pembiayaan dengan cara mahasiswa membayar uang kuliahnya ketika dia lulus atau sudah mulai bekerja, pastinya akan meningkatkan jumlah sarjana dan kualitas SDM di Indonesia.

I might be not the strongest nor the smartest, but i’m the most persistent – Merry Riana

Kehidupan yang berat dan sulitnya mencari kerja, membuat Merry terjerumus dalam investasi bodong. Merry tergiur dengan imbal hasil yang ditawarkan oleh investasi tersebut dan kemudian berusaha merekrut orang lain untuk ikut berinvestasi. Namun sayangnya, investasi bodong itu penipuan. Merry tertipu, uangnya dibawa kabur oleh sang pemilik investasi. Padahal, uang tersebut merupakan uang satu – satunya yang dimiliki Merry setelah menjual laptop ayahnya. Di momen terburuk itulah, akhirnya Merry mulai mencoba bermain di pasar saham, hingga akhirnya sukses menghasilkan satu juta dolar di umur 26 tahun.

Film ini sangat inspiratif dan memberi pelajaran mengenai banyak hal. Dan memang benar, ketika kita bekerja keras untuk sukses dan bahagia, maka kita akan mulai menghitung dan menilai apapun dengan uang. Terkadang kita lupa, sukses dan bahagia tidak selamanya bisa dihitung. Sukses dan bahagia bisa saja berarti membuat orang lain bahagia atau membagi kebahagiaan yang kita miliki. Bekerja keraslah namun jangan lupakan hal – hal yang berharga dalam hidupmu.

Sometimes we win, sometimes we lose. Don’t be sad, that’s life by the way.

Advertisements

2 thoughts on “Merry Riana Movie (2014): Mimpi, Kerja Keras, dan Realita”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s