Pinot dan Dita: Kreativitas dalam Keterbatasan

Sumber foto: picssr.com
Sumber foto: picssr.com

Pinot dan keluarganya selama ini dikenal sebagai Vine and Instagram artist berkat tutorial singkat yang sering mereka bagikan. Pada acara TEDx Jakarta: New Endings beberapa waktu lalu, Pinot bercerita bagaimana dia dan keluarga mengatasi rasa bosan di Kuwait serta menstimulasi kreativitas ketiga anaknya. Keterbatasan yang sebenarnya menjadi ‘penghalang’ dapat diubah menjadi ‘pintu peluang tanpa batas’.

Pinot suka menyebut dirinya dan keluarga sebagai ‘Pinot and the Neverland Family’ yang didasari oleh dua hal. Pertama, mereka tinggal di Kuwait yang dideskripsikan oleh Pinot bahwa semua yang ada disana ‘cokelat’ alias gurun dan hanya sedikit tempat hiburan, bisa dibilang mereka tinggal di ‘negeri antah berantah’. Kedua, Pinot dan Dita (istri Pinot) percaya akan ‘keajaiban’ dan ‘negeri dongeng’. Hal ini bisa dilihat dari cara mereka menamakan ketiga anaknya. Mereka menamakan ketiga anaknya dari tokoh film. Anak sulungnya Arwen dari Lord of the Rings, anak keduanya Lea dari Starwars dan si bungsu Neo dari The Matrix.

Pinot bercerita, ketika pertama kali menginjakkan kaki di Kuwait, dia sempat kaget. Selain rindu masakan Indonesia dan rindu keluarga, sejauh mata memandang hanya terlihat gurun dan bahkan toko buku pun tidak ada. Tapi, berdiam diri dan bosan bukanlah pilihan. Dita menambahkan, mereka berdua berusaha mencari kegiatan alternatif untuk mengisi waktu luang, menurunkan ekspektasi mereka dan menciptakan ekspektasi lainnya. Hal yang mereka lakukan yaitu, memutuskan untuk tidak punya televisi di rumah dan meminta anak – anak mereka untuk membuat mainannya sendiri. Pinot dan Dita percaya, semangat ‘do it yourself’ harus diajarkan sejak dini lewat membuat mainan sendiri. Ketika ketiga anak mereka membuat mainannya sendiri, mereka akan lebih menghargai mainan tersebut. Anak – anak mereka pun akhirnya menjadi lebih kreatif.

Kehidupan Pinot mulai berubah ketika dia mencoba aplikasi Vine. Pinot merasa cocok dengan Vine yang merupakan video sharing berdurasi 6 detik dan mulai mem-posting tutorial menggambar lewat Vine. Selain Pinot, Dita pun merasa ‘klik’ dengan Vine dan ikut mem-posting tutorial baking dan crafting. Ternyata respon netizens terhadap karya mereka sangat baik sehingga karya mereka dikenal luas. Tak berhenti sampai disitu, Pinot dan Dita juga mengajarkan ketiga anaknya untuk membuat film dengan Vine. Arwen menjadi penulis naskah, Lea menjadi animator dan Neo menjadi sound effect. Hasilnya pun sangat baik, karya mereka disukai netizens dan bahkan mendapat proyek dari Mashable, Twitter dan Vine.

Pinot and the Neverland Family adalah contoh keluarga yang mampu menyiasati keterbatasan dan mengubahnya menjadi pintu peluang tanpa batas. Selain menyiasati keterbatasan, Pinot dan keluarga percaya akan ‘magicalitas’, suatu padanan kata yang menurut mereka berarti mengerti dan mempercayai dongeng anak – anak, keajaiban dan imajinasi.

Advertisements

2 thoughts on “Pinot dan Dita: Kreativitas dalam Keterbatasan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s