Terjebak Nostalgia di Film Stand by Me Doraemon (2014)

Sumber foto: otakumode.com
Sumber foto: otakumode.com

Bagi kebanyakan orang termasuk saya, Doraemon bukan hanya seekor robot kucing dalam sebuah anime dan manga populer, Doraemon adalah ‘teman masa kecil’. Selama kurang lebih 80 tahun, Doraemon berhasil membuat jutaan anak percaya kehidupan yang canggih di abad ke-22 dan seekor robot kucing yang bukan hanya bisa melakukan apa saja tetapi juga merupakan teman terbaik. Alhasil, film yang mulai dirilis di seluruh bioskop Blitz Megaplex dan Cinemaxx pada tanggal 10 Desember 2014 sukses membuat masyarakat rela mengantri panjang demi nostalgia singkat selama 95 menit.

Selain untuk melepas rindu, alasan utama film ini sangat ditunggu adalah karena film Stand by Me Doraemon merupakan film terakhir Doraemon sekaligus peringatan 80 tahun dari Fujiko F Fujio. Melalui film ini, kenangan masa kecil saya dibangkitkan kembali melalui beberapa alat populer Doraemon seperti, mesin waktu, baling – baling bambu, pintu kemana saja, roti memori dan sebagainya. Film ini juga menggambarkan dengan baik tingkah konyol Nobita ketika bertemu Shizuka atau ketika Nobita merengek minta diberikan alat canggih oleh Doraemon, yang mengundang tawa seisi bioskop. Selain itu, di beberapa bagian juga muncul adegan yang mampu mengundang air mata. Saya sendiri pun sempat beberapa kali menangis.

Will you be okay without me? – Doraemon

Film ini juga konsisten menyampaikan pesan yang sama seperti yang sudah ada di anime dan manga-nya. Pesan yang dibawakan seperti, jangan terlalu bergantung pada orang lain. Pesan ini digambarkan dengan baik ketika Doraemon memarahi Nobita karena Nobita selalu merengek minta alat baru yang canggih. Pada adegan itu, Doraemon berkata,”Jangan terlalu bergantung pada alat yang canggih atau kepadaku, kamu sendiri juga harus mau berusaha.” Selain itu, pesan yang lain seperti, masa depan akan berubah tergantung dari apa yang kita lakukan saat ini. Pesan ini juga digambarkan dengan baik melalui adegan Doraemon memperlihatkan layar yang berisi perubahan istri Nobita yang sebelumnya Jaiko menjadi Shizuka.

Walaupun film ini sukses untuk melepas rindu, ada beberapa hal yang menurut saya kurang oke. Jalan ceritanya terlalu terpusat pada kisah cinta Nobita dan Shizuka, saya justru lebih suka apabila fokusnya bagaimana Nobita menjadi manusia yang lebih rajin, mandiri dan sukses. Subtitle-nya juga kurang bagus, sehingga beberapa terjemahan cenderung kurang pas, seperti contoh: ketika Suneo menggoda Nobita karena dihukum di depan kelas, Giant datang dan mengatakan “give him a break, Suneo”, malah diartikan ke bahasa Indonesia: “beri dia istirahat, Suneo”, padahal seharusnya “jangan ganggu dia, Suneo”. Namun, di luar semua kekurangan itu, saya puas terjebak nostagia singkat selama 95 menit lewat film Stand by Me Doraemon.

Advertisements

7 thoughts on “Terjebak Nostalgia di Film Stand by Me Doraemon (2014)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s