REVIEW: Stand Up Comedy #TanpaBatasVol2

sumber foto: twitter.com
sumber foto: twitter.com

Standup Comedy itu tidak boleh hanya sekadar lucu, tapi harus memberikan pesan yang berguna kepada para pendengarnya. Itulah yang selalu dianut oleh Standup Comedian Sammy D. Putra (@notaslimboy). Sabtu, 26 April 2014 lalu, merupakan malam penutup dari tur kedua Sammy #TanpaBatasVol2 dengan judul: “Komedian Menggugat”. Judul yang cukup berat untuk sebuah komedi. Seusai menonton, saya baru sadar kenapa diberi judul seperti itu. Komedian Menggugat merupakan kegelisahan Sammy atas kondisi Indonesia, mulai dari kondisi politik, sosial, budaya hingga SARA. Ketika menyampaikan bit demi bit, saya pun merinding merasakan luapan emosi yang meluap dari tubuh gembulnya.

Bertempat di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki, 800 tiket telah ludes terjual habis. Acara ini dibuka oleh tiga komika yaitu: Rindra Dana, Krismanto (Mas Cemen) selaku komika lokal dan Irfan Karta. Uniknya, setiap kota yang dikunjungi oleh tur #TanpaBatasVol2 selalu memberi ruang kepada komika lokal untuk tampil sebagai pembuka. Dari tiga komika tersebut, menurut saya, yang paling mengundang tawa adalah penampilan Rindra Dana. Dengan gayanya yang santai, dia mampu membuat penonton terbahak bahak dengan materi yang “panas” seputar isu agama. Perlu diingat, dalam menonton Standup Comedy memang diperlukan kedewasaaan berpikir dan open-minded. Itulah alasannya, diberlakukan batasan umur dalam menonton pertunjukan tersebut. Penyampaian materi Standup Comedy pun juga berbeda apakah itu live atau yang diliput oleh stasiun TV.

Pada malam itu, saya merasa setiap penonton tidak lagi terkotak – kotakan oleh SARA masing – masing, entah itu cina, pribumi, kristen, katolik, islam, hindu dan buddha.

Setelah penampilan tiga komika, Sammy muncul dari balik tirai dengan mengenakan setelan jas dan celana abu – abu. Dalam menyampaikan bit demi bit, Sammy terlihat ‘tanpa batas’. Materi yang disampaikan penuh dengan muatan kritik sosial, pengamatan terhadap kondisi politik Indonesia dan opini terhadap isu-isu terkini dan juga isu SARA. Dengan memasukkan kegelisahannya yang dibalut dengan humor, Sammy dengan mudah menyelipkan materinya ke dalam benak penonton. Isu yang diselipkan seperti, isu SARA yang tidak pernah ada ujungnya, toleransi antar agama yang rendah dan apatisme masyarakat tentang politik.

Selama dua jam penuh, atmosfir ‘tanpa batas’ juga saya rasakan. Melalui humor, tidak ada lagi pembeda di antara kita. Cuma sayangnya, ada beberapa bit yang diulang. Bit tersebut pernah saya tonton di youtube sebelumnya. Tapi, walaupun pernah saya tonton, tetap saja saya tertawa ketika dibawakan lagi oleh Sammy. Acara kemudian ditutup penuh haru dengan pernyataan dari Sammy bahwa 800 penonton yang ada di Graha Bakti Budaya saat itu telah mewujudkan mimpi anaknya. 10 tahun dari sekarang ketika anaknya sudah beranjak dewasa, dia akan mengambil DVD Komedian Menggugat dan menunjukkan kepada teman – temannya dengan rasa bangga memiliki ayah seorang pelawak.

“Orang pribumi itu dilihat dari perjuangannya untuk bangsanya, bukan keturunannya. Soe Hok Gie itu pribumi walaupun dia keturunan Cina karena ia berjuang untuk HAM bangsanya, sedangkan Angelina Sondakh dan Anas Urbaningrum itu bukan pribumi karena mereka mengkhianati bangsanya sendiri” – Sammy ‘Not A Slim Boy’ (#TanpaBatasVol2)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s