Hubungan Beda Agama, Mungkinkah?

Sumber foto: twitter.com
Sumber foto: twitter.com

“Sejak awal, mereka (pasangan yang menjalani beda agama) sadar mereka membawa keyakinan berbeda yang sudah melekat sejak lahir dan dihayati sampai kelak saat hidup akan berhenti. Tapi sebagaimana layaknya manusia yang tengah dimabuk asmara, tantangan yang sudah jelas di depan mata pun dianggap seolah tak ada. Semua jalan seolah nampak lurus dan mulus untuk mereka lalui berdua. Waktu berjalan tanpa terasa dan mereka berdua hanya bisa berharap untuk segera mendapat jalan terbaik demi kelanggengan hubungan mereka.” dikutip dari novel Jodoh Terakhir karya Netty Virgiantini tahun 2010, halaman 31.

Kondisi sekarang dimana masyarakat tidak lagi terkotak – kotak berdasarkan Suku, Ras, Agama dan Antar Golongan (SARA) membuat fenomena hubungan beda agama makin menjamur. Setiap harinya, kita berinteraksi bukan hanya dari suku, ras, agama atau golongan kita sendiri, kita sudah bercampur dengan suku, ras, agama atau golongan lain. Masalahnya adalah negara kita tercinta masih belum sedewasa itu untuk menerima pernikahan beda agama, baik pemerintah maupun masyarakatnya. Selama kamu masih tinggal di Indonesia, menikah harus atas satu agama, entah itu agamamu atau pasanganmu (apabila berbeda).

Coba bayangkan, kamu sedang menjalani hubungan dengan lawan jenis yang menarik dan merupakan pasangan yang sesuai. Seiring berjalannya waktu, kalian menemukan banyak kecocokan dan keseimbangan dalam hubungan tersebut. Toleransi kalian berdua yang tinggi, membuat kalian tidak mau saling memaksakan keyakinan masing – masing. Hingga akhirnya, kalian terpaksa harus berpisah karena persoalan agama yang tidak ada titik temunya. Padahal, mungkin saja, lawan jenis tersebut adalah pasangan kamu yang paling ideal.

Apabila semua agama mengajarkan kebaikan, kenapa hubungan beda agama harus ditentang? Toh pada dasarnya semua sama – sama baik kan?

Sebenarnya, ada beberapa hal yang menjadi dasar kenapa fenomena ini muncul: 1. Kamu berinteraksi lebih intens dengan lawan jenis yang berbeda agama 2. Selama ini kamu tidak bergaul atau kurang aktif di lingkungan agamamu. 3. Teman – temanmu mayoritas berasal dari agama yang berbeda. Contoh kasus, kamu beragama Hindu atau Buddha yang tinggal di kota besar seperti Jakarta. Hindu dan Buddha adalah agama minoritas di Indonesia. Selama kamu tinggal di Jakarta, kamu jarang ke tempat ibadah atau apabila sering ke tempat ibadah, kamu tidak aktif disana. Sedangkan, setiap hari kamu berinteraksi dan bertemu dengan lawan jenis yang agamanya berbeda denganmu. Wajar saja, apabila kamu jatuh cinta dengan lawan jenis yang berbeda agama.

Akhir kata, bagi kamu yang belum masuk ke dalam hubungan beda agama, lebih baik jangan. Apabila masih nekat, silahkan resiko ditanggung sendiri. Dan, bagi kamu yang sedang menjalani, silahkan dicari jalan terbaiknya. Ada tiga pilihan, 1. Ganti Tuhan 2. Ganti pacar 3. Ganti negara. Good luck! 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s