Ajahn Brahm Tour D’Indonesia 2014

Ajahn Brahm
Sumber foto: newlotus.buddhistdoor.com

Kagum. Terheran – heran. Itulah ekspresi saya ketika menghadiri Ajahn Brahm Tour D’Indonesia 2014 di Britama Arena, Sports Mall, Kelapa Gading 9 Maret lalu. Kurang lebih 4.000 orang memadati Britama Arena untuk mendengarkan talk show Ajahn Brahm yang berjudul “Aware Everywhere”. Pemandangan ini sungguh sangat unik bagi saya, karena seumur hidup baru kali ini saya melihat umat Buddha sebanyak itu berkumpul untuk mendengarkan ajaran Buddha. Yang membuat saya lebih kaget lagi, yang hadir bukan hanya umat Buddha, tapi saya melihat beberapa yang hadir berasal dari agama lain.

Bagi yang belum mengenal Ajahn Brahm, saya akan menuliskan profil singkatnya.  Ajahn Brahmavamso Mahathera (dikenal sebagai Ajahn Brahm), lahir dengan nama Peter Betts di London, Inggris pada tanggal 7 Agustus 1951, adalah seorang bhiksu Buddha Theravada. Saat ini, Ajahn Brahm adalah bhiksu dari Biara Bodhinyana, di Serpentine, Australia Barat. Beliau terkenal sebagai bhiksu yang murah tersenyum dan merupakan penulis dari beberapa buku populer seperti: serial Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya, Hidup Senang Mati Tenang dan Superpower Mindfullness. Sumber: Wikipedia.

Ini merupakan pertama kalinya saya datang mendengarkan ceramah dari Ajahn Brahm. Saya penasaran dengan sosok beliau, karena sosoknya yang begitu populer bukan hanya di kalangan buddhis tapi juga non – buddhis. Ajahn Brahm adalah sosok bhiksu dengan kemampuan story-teller luar biasa dipadukan dengan kebijaksanaan yang mumpuni. Setiap pertanyaan yang ditanyakan kepada beliau, selalu dijawab dengan sangat mudah dipahami.

Dalam talk show tersebut, ada beberapa jawaban Ajahn Brahm yang membekas di benak saya. Beberapa pertanyaan dan jawaban akan saya sajikan di bawah.

Q1: Apakah Ajahn Brahm pernah melakukan kesalahan?

A1: Dalam hidup ini sebenarnya tidak ada hal baik atau hal buruk, yang ada hanyalah keputusan dan konsekuensi. Apapun yang terjadi di masa lalu, lepaskanlah. Karena tidak ada yang tahu hasilnya seperti apa apabila kamu memilih pilihan yang berbeda. Misalnya, bayangkan bila dulu saya tidak menjadi bhiksu, kemudian saya menikah, mungkin saya sekarang sudah punya cucu. Tapi, siapa yang tahu hasilnya seperti apa apabila pilihan itu yang saya ambil?

Q2: Apakah yang harus saya lakukan, apakah saya harus mengikuti semua ucapan orang tua saya meskipun saya sadar bahwa hal itu belum tentu benar?

A2: Yang paling penting, kamu harus ingat untuk tetap menghormati orang tua kamu. Menghormati berarti menimbang saran yang diberikan terlebih dahulu, bukan berarti melakukan semua yang diinginkan. Daripada berkata TIDAK pada orang tua, lebih baik berkata,”Saya akan memikirkannya terlebih dahulu.” Pangeran Siddharta (Buddha sebelum mencapai penerangan sempurna) pun tidak selalu mengikuti apa yang dikatakan oleh orang tuanya, bayangkan apabila beliau mengikuti ucapan orang tuanya, mungkin sekarang tidak akan ada agama Buddha dan Pangeran Siddharta akan menjadi raja di kerajaannya.

Q3: Saya merupakan non-buddhis, tapi saya merasa apa yang anda (Ajahn Brahm) ajarkan membekas di hati saya. Yang saya tanyakan, apakah yang membedakan anda (Ajahn Brahm) dengan kami, manusia biasa (non bhiksu)?

A3: Apabila anda ingin tahu apa bedanya saya dengan anda, coba ikut saya ke bandara. Anda akan melihat barang bawaan saya sangat sedikit. Saya hanya membawa tas kain kecil saya. Berbeda halnya dengan orang lain yang berpergian, pasti mereka membawa koper yang besar dan banyak barang. Saya melepaskan segalanya. Apakah anda bisa melakukannya?

Q3 (lanjutan): saya akan pikir – pikir dahulu.

A3(lanjutan): itulah perbedaannya, anda pikir – pikir dahulu dan saya sudah melakukannya.

Begitulah, sedikit dari beberapa pemikiran Ajahn Brahm yang muncul dalam talk show-nya di Jakarta. Saya akhirnya menyadari mengapa banyak orang menyukai pemikiran Ajahn Brahm, bukan hanya umat Buddha tapi juga non-Buddha. Hal ini disebabkan, apa yang diajarkannya bukan agama Buddha ortohodox yang teoritis, melainkan ajaran mengenai kehidupan, cinta kasih, pengampunan dan kedamaian. Itulah ajaran Buddha yang sebenarnya. Ajaran mengenai kehidupan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s