Handshake dan Sesi Pemujaan

jktdlm
sumber: detik.com

Dunia ini sudah gila! Saya mengernyit dahi ketika ditawari proposal untuk mensponsori meet and greet salah seorang ex  dari idol group wanita populer di Indonesia. Paket yang ditawarkan untuk para fans-nya pun beragam. Untuk satu sesi handshake + CD + photobox dengan sang artis dibanderol dengan harga 100 ribu rupiah. Untuk sesi makan bersama sang idola, fans harus merogoh kantongnya lebih dalam lagi. Untuk satu kali makan bareng, fans harus merogoh sekitar 200 – 300 ribu rupiah. Itu adalah sekilas penjelasan teman saya ketika menawari proposal tersebut.

Bagi yang belum tahu sesi handshake, saya akan jelaskan sedikit. Sesi handshake adalah sesi dimana fans dapat berjabat tangan secara langsung dengan idolanya sembari berbincang – bincang singkat selama 10 detik. Saat itulah, fans bisa secara langsung menyatakan dukungan dan kecintaannya kepada sang idola. Kalau masih penasaran, silahkan cek tata cara handshake disini. Bagi saya, handshake itu bukan sekadar jabat tangan tapi sebuah “ritual pemujaan”.

Setelah membaca banyak review soal handshake, ternyata tidak jarang fans tersebut membeli lebih dari satu tiket, hanya untuk berbicara lebih lama dengan idolanya. Panitia acara handshake juga membatasi setiap fans hanya boleh membeli maksimum 3 tiket. Ekspresi yang muncul dalam sesi handshake pun beragam. Ada yang ketika memegang tangan si artis, fans tersebut bilang,”kita kayak pacaran ya.” Bahkan ada juga yang gak bisa ngomong pas jabat tangan. sumber: detikcom.

Saya tidak habis pikir, ada orang yang rela membayar hanya untuk sebuah jabat tangan dan foto bareng? Sungguh ini di luar logika berpikir saya. Mereka (para fans) telah mentransformasikan sang artis menjadi satu level yang lebih tinggi, yaitu: “bidadari khayangan”. Betapapun sempurna wanita tersebut, dia tetaplah seorang manusia biasa. Wanita itu bukanlah bidadari khayangan yang turun ke bumi. Wanita tersebut masih bisa melakukan hal – hal yang manusiawi, apabila saya ambil contoh ekstrimnya, wanita tersebut masih bisa kentut, ngupil dan berdahak.

Akhirnya, saya menemukan penjelasan logis atas fenomena tersebut, berikut yang saya kutip dari Lex De Praxis: “Prinsip Law of Scarcity yang dijabarkan dalam buku favorit saya, Psychology of Persuasion, bisa menjelaskan mengapa segmen handshake ini sangat efektif membuat para fans kecanduan: “Things are more attractive when their availability is limited. People become more passionate and devoted to pursue them.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s