Jalur Cepat untuk Kaya tapi Tidak Mudah

Jalur cepat untuk jadi miliarder tidak melalui jalur lambat pada umumnya, lulus kuliah, kerja keras, dan pensiun kaya raya. Jalur cepat ini memotong waktu yang dibutuhkan untuk jadi miliarder dan bisa pensiun di usia muda dan kaya raya. Tentu saja walaupun jalur cepat, hal ini tidak mudah.

Continue reading Jalur Cepat untuk Kaya tapi Tidak Mudah

Manusia dan Imajinasi yang Membuatnya Bertahan

Kemampuan imajinasi membuat homo sapiens mampu berevolusi dan menjadi makhluk superior di dunia. Imajinasi ini menghasilkan mitos kolektif yang membuat homo sapiens mampu bekerjasama dalam kelompok yang besar, bahkan dengan orang asing sekalipun.

Continue reading Manusia dan Imajinasi yang Membuatnya Bertahan

Resep 10% Lebih Bahagia

Sumber foto: Lidya Nada/Unsplash.com

Berlatih mindfulness, bukan berarti masalah kamu akan hilang. Tapi menyadari bahwa semua kondisi hanyalah sementara. Kesadaran ini yang membuat kamu 10% lebih bahagia.

Kali ini saya akan membahas buku 10% Happier karya seorang mantan pembawa berita ABC News Dan Harris. Buku ini bercerita tentang perjalanan Harris dalam menemukan kedamaian jiwanya. Kadang kita tidak pernah sadar apa yang membuat kita tidak bahagia, hingga kita benar-benar dihadapkan dengan hal tersebut. Bagi Harris, itu adalah momen saat dia kena serangan panic attack saat membawakan berita di TV nasional 16 tahun lalu. Itulah saat dimana Harris merasa hidupnya harus berubah. 

Panic attack yang dihadapi oleh Harris adalah suara diri Harris atau kita kenal dengan inner voice. Suara inilah yang selalu memberikan komentar apapun yang terjadi dalam hidup kita, baik yang terjadi di luar maupun di dalam diri kita. Perjalanan spiritual membawa Harris untuk menenangkan inner voice-nya melalui latihan meditasi.

Buku ini menarik karena ditulis dari sudut pandang Harris yang skeptis hingga menemukan kedamaian jiwanya dan 10% lebih bahagia.

Saya akan membahas tiga poin dari perjalanan Harris di buku ini:

Latihan Mindfulness Setiap Saat

Mungkin banyak orang berasumsi kalau latihan mindfulness atau meditasi perlu ruangan khusus dan waktu khusus. Tapi, sebenarnya latihan mindfulness bisa dimana saja dan kapan saja, semudah memperhatikan nafas dan pikiran yang muncul tanpa memberikan makna. Berdasarkan ajaran Buddha, ada tiga respon manusia yang biasanya muncul. Kita mau hal itu, kita menolaknya, atau melamun. Seperti contoh, cookies, kita mau. Digigit nyamuk, kita tolak. Peraturan keselamatan yang dibacakan oleh pramugari? Biasanya kita suka gak sadar atau melamun pas denger pramugarinya bicara. Sedangkan, saat kita mulai berlatih mindfulness, kita akan mulai memandang dunia tanpa memberikan respon emosi. Latihan ini membantu kita untuk berhenti sejenak dan membuat pilihan hidup yang lebih baik.

Teknik R.A.I.N. untuk Latihan Meditasi

Harris membagi latihan meditasi menjadi 4 tahap yang disingkat menjadi R.A.I.N. Recognize, menyadari perasaan yang muncul. Allow, menerima perasaan tersebut apapun itu rasanya, entah sakit atau bahagia. Investigate, merenungkan sensasi perasaan yang muncul pada tubuh. Non-Identification, menyadari bahwa perasaan apapun yang muncul, entah itu marah atau merasa rendah diri. Perasaan itu hanya sementara bukan cerminan diri kamu yang sebenarnya. Esensinya, meditasi membantu kita untuk memahami diri beserta perasaan yang timbul dan tenggelam. Alih-alih membiarkan emosi mengontrol diri, kita melangkah keluar dan melihatnya dari kejauhan.

Melakukan yang Terbaik tanpa Memaksakan Hasil

Apakah menjadi ambisius itu salah? Tentu saja tidak, asalkan dijalankan dengan penuh kesadaran bahwa ada hal-hal di luar kendali kita, walaupun kita sudah melakukan yang terbaik. Ketika kita tidak fokus pada hal yang tidak bisa dikendalikan, kita bisa fokus pada hal-hal yang bisa kita lakukan. Inilah yang membawa kita pada kemampuan untuk bijak berambisi, lakukan yang terbaik, tapi tidak memaksakan hasilnya seperti apa. Jadi, saat kita gagal, kita mampu untuk bangkit dan coba lakukan yang terbaik lagi. Sebagai contoh, seorang petani yang menanam padi. Tentu saja, petani itu ingin tanaman padinya panen dan bagus. Tapi, ada hal-hal yang di luar dari kontrol petani tersebut. Bisa saja, petani itu sudah pakai pupuk terbaik, bibit paling unggul, tapi pada akhirnya panennya tetap gagal karena cuacanya yang tidak mendukung. 

Untuk versi animasinya, bisa dilihat di:

Cara Mudah Biarkan Dirimu untuk Bahagia

Hal yang menghambat diri untuk bisa bahagia adalah diri kita sendiri. Ketika kita berdamai dengan diri dan penuh kasih sayang, saat itulah kita akan siap untuk bahagia.

Kali ini saya akan membahas buku How to Stop Feeling Like Sh*t karya Andrea Owen. Buku ini terinspirasi dari pengalaman pribadi Owen di tahun 2007 ketika berada dalam titik terendah dalam hidupnya. Saat itu, dia sedang berada dalam hubungan yang buruk, kehilangan pekerjaan, tidak punya tempat tinggal, dan sedang hamil. Saat itu, rasa malu dan kesepian selalu menghantui hari-hari yang dijalani oleh Owen. Pelan-pelan, dia mulai menata kembali hidupnya, hingga sekarang menjadi life-coach, pembicara internasional, dan penulis buku. 

Ketika membaca kisah hidupnya Owen, saya langsung terenyuh dan kagum akan kegigihannya untuk bangkit kembali. Dia menuliskan 14 kebiasaan buruk yang membuat kita tidak bisa bahagia. Saya akan memilih 3 hal yang paling banyak saya temui dalam kehidupan sehari-hari:

Sumber foto: Istock.com

Self-Critic Negatif

Ini hal yang paling sering saya temui. Suara hati kecil kita yang selalu menyalahkan diri sendiri kalau ada hal buruk. Mungkin bentuknya bukan cuma soal kritik, tapi juga perasaan tentang diri sendiri yang tidak pernah cukup. Owen bertanya,”Apa yang kamu katakan pada diri kamu saat melihat dirimu di cermin?” Saya jadi membayangkan Owen melihat ini dari sudut pandang seorang wanita, seperti pertanyaan apakah saya gemuk? Apakah ada jerawat baru yang muncul? Dan hal-hal insecure lainnya. Owen bilang kalau seseorang rajin melakukan self-critic negatif untuk dirinya sendiri, itu sama saja berarti kamu sedang berada dalam hubungan yang buruk. 

Owen mencontohkan Valerie, seorang penata rambut berumur 31 tahun. Valerie selalu bilang ke dirinya sendiri kalau dia gemuk dan itulah alasan dia tetap jomblo di umur yang mendekati 32 tahun. Valerie selalu punya self-critic negatif soal dirinya sendiri dan ketika ada orang yang memuji Valerie, dia hanya berpikir orang itu hanya sekedar menghibur dan tidak mengatakan yang sebenarnya. 

Sumber foto: chintanjain.com

Membandingkan diri sendiri dengan orang lain

Ini kebiasaan buruk yang diperparah dengan munculnya media sosial. Di jaman sekarang dimana sosial media adalah ajang pamer keberhasilan, ini merupakan trigger buat banyak orang. Sebagai contoh, ketika kita lihat temen kita baru dapat promosi jabatan, baru beli mobil baru, beli rumah baru, baru menikah, baru punya anak. Pasti ada rasa membandingkan dengan kondisi kita saat ini. Kita merasa bahwa hidup mereka kelihatan begitu sempurna, padahal kenyataannya tidak seperti itu karena hidup tidak seindah feeds Instagram.

Sumber foto: franthony.com

People-pleaser and Approval-Seeker

Sadar atau tidak, mungkin kita sering untuk berusaha menyenangkan orang lain. Misalnya, selalu bilang iya, padahal ada saatnya kita merasa lagi gak mau. Kita merasa gak bisa bilang tidak karena takut ngecewain. Tidak cuma berusaha nyenengin orang lain, mungkin kita juga mencari validasi dari orang lain. Validasi itu simple-nya merasa ingin diakui dan dipuji oleh orang lain. Ini adalah langkah yang fatal karena kita menaruh kebahagiaan kita ke orang lain. Selain itu, apa yang orang lain pikirkan tentang kita, itu adalah tanggung jawab mereka dan bukan tanggung jawab kamu. Saat kamu sadar soal ini, kamu akan merasa bebas dan damai.

Untuk versi animasinya bisa dilihat di:

Melihat Dunia dengan Lebih Akurat

Hans Rosling mendedikasikan hidupnya untuk membantu orang melihat dunia berdasarkan fakta. Fakta itulah yang membuat kita sadar bahwa dunia menuju ke arah yang lebih baik.

Kali ini saya akan membahas buku Factfullness karya Hans Rosling. Di buku ini, Hans menjelaskan bahwa kebanyakan orang melihat dunia dengan cara yang kurang tepat, apalagi di era dimana fake news dan hoaks bertebaran dimana-mana. Sebagai contoh, ketika kita ditanya soal tren global, biasanya kita langsung menjawab saat ini dunia keadaan yang semakin buruk. Padahal, jawaban yang kita berikan belum tentu didasarkan pada fakta. Sebagai seorang ahli statistik, Hans mengajak kita untuk berbicara berdasarkan data dan objektivitas. Saking populernya buku ini, bahkan hingga direkomendasikan oleh Barrack Obama dan Bill Gates. 

Dalam bukunya, Hans membahas 10 insting yang membawa seseorang melihat dunia dengan kurang tepat. Saya akan membahas 3 insting yang paling sering saya temui.

Sumber foto: Gapminder.org

Gap Instinct

Gap Instinct adalah kecenderungan seseorang untuk membagi segala sesuatu menjadi dua kubu, hitam putih, negara kaya negara miskin, introvert extrovert. Padahal dunia tidak bekerja se-ekstrim itu, mayoritas akan berada di tengah-tengah bukan di ekstrim kiri atau ekstrim kanan. Sebagai contoh, negara berkembang dan negara maju. Ini adalah mispersepsi yang sering ditemui. Hans berargumen, hal ini sudah tidak relevan lagi. 

Hans menjabarkan sebuah framework dalam membagi tingkat kekayaan seseorang. Level 1 hidup dengan pendapatan kurang dari $2 per hari. 1 milyar orang di dunia hidup di kondisi tersebut. Jika seseorang berada di level ini berarti dia hidup tanpa alas kaki, memasak makanan di api unggun, dan menghabiskan waktu seharian untuk mengambil air, dan tidur di tanah saat malam hari. Level 2 artinya orang yang hidup dengan pendapatan antara $2 – $8 per hari. 3 milyar orang hidup di level ini yang berarti orang tersebut sudah mampu beli sepatu atau bahkan sepeda, anak mereka sudah bersekolah, memasak dengan kompor, dan tidur di ranjang. Level 3 artinya orang dengan penghasilan $8 – $32 per hari. 2 milyar orang hidup di level ini yang artinya orang tersebut sudah punya kulkas dan air di rumahnya. Mereka juga punya sepeda motor dan anak-anak mereka sudah bersekolah hingga SMA. Sedangkan, di level 4 artinya orang yang hidup dengan pendapatan $32 per hari. 1 milyar orang hidup dalam kondisi ini dengan pendidikan perguruan tinggi, punya mobil, dan bisa liburan. 50 tahun lalu, setengah dari total penduduk dunia hidup di level 1. Saat ini, jumlahnya hanya 13% dari total penduduk dunia.

Sumber foto: iasexpress.net

Straight line instinct

Ini adalah kecenderungan pikiran seseorang bahwa setiap tren akan selalu naik ke atas seperti garis lurus dalam sebuah statistik. Padahal, kenyataannya tidak seperti itu. Sebagai contoh, banyak orang berpikir kalau populasi PBB memproyeksikan populasi penduduk akan mencapai 9,8 milyar orang di tahun 2050. Angka ini hampir dua kali lipat dari tahun 2000 dimana jumlah penduduknya adalah 6,1 milyar orang. Kalau dilihat data historis, pada tahun 1900, jumlah penduduk dunia hanya 1.6 milyar orang dan mengalami peningkatan hampir empat kali lipat selama 100 tahun. Hal ini berarti, ketika taraf hidup seseorang makin meningkat, jumlah anak yang dihasilkan tiap keluarga akan menurun. Hans juga mencontohkan perkembangan anak. Di tahun-tahun awal, bayi atau balita pasti bertumbuh sangat cepat, tapi semakin dewasa pertumbuhannya akan semakin melambat hingga berhenti untuk bertambah tinggi.

Sumber foto: voanews.com

Generalization instinct

Ini adalah kecenderungan kita untuk menggeneralisir dan mengkategorikan sesuatu. Bukan berarti gak boleh, tapi yang tidak boleh adalah menggeneralisir sesuatu dengan kurang tepat. Hal yang sering kita dengar seperti: Mayoritas orang bla bla bla. Padahal kata mayoritas sendiri bisa sangat rancu, apakah 99% atau hanya 51%. Mungkin seperti halnya, menggeneralisir kalau semua wilayah China terjangkit virus Corona, padahal hanya di beberapa kota saja. Hal ini tentu saja tidak tepat.

Untuk versi animasinya, bisa dilihat di:

Cara Membangun Habit dari Hal Paling Kecil

Kunci utama kebiasaan yang baik adalah pengulangan terus menerus, bukan kesempurnaan. Setiap pilihan yang kita lakukan akan menentukan siapa diri kita di masa depan.

Kali ini saya akan membahas buku Atomic Habits karya James Clear. Buku ini membahas kalau untuk mengubah kebiasaan harus dimulai dari menjalankan hal kecil dengan disiplin. Mungkin hal kecil tersebut awalnya kelihatan sepele, tapi apabila dilakukan terus menerus dengan disiplin, kita akan kaget kalau ternyata hal kecil itulah yang berkontribusi pada perubahan besar. Itulah yang menginspirasi judul bukunya, seperti halnya sebuah atom yang merupakan building blocks dari sebuah molekul, atomic habit adalah building blocks untuk hasil yang luar biasa.

Ada tiga hal yang menurut saya menarik dari buku ini:

Sumber foto: Jamesclear.com

1% Lebih Baik Setiap Hari

James percaya bahwa kebiasaan yang baik adalah kumpulan hal baik kecil yang dilakukan terus menerus. Di bukunya, James mencontohkan tim pesepeda dari Inggris. Selama 110 tahun, tim pesepeda Inggris tidak pernah memenangkan satupun pertandingan. Kemudian, mereka merekrut Dave Brailsford sebagai salah satu pelatihnya. Brailsford fokus untuk meningkatkan 1 persen kemajuan untuk timnya secara reguler. Selama 5 tahun, 1 persen kemajuan ini telah terakumulasi menjadi ratusan kemajuan dengan hasil yang luar biasa. Hingga akhirnya, pada tahun 2008, setelah 5 tahun berlatih, tim pesepeda Inggris berhasil membawa pulang 60% medali emas yang ada di pertandingan Olimpiade di Beijing. Empat tahun kemudian ketika Olimpiade diselenggarakan di London, tim pesepeda Inggris berhasil mencatatkan sembilan rekor olimpiade dan tujuh rekor dunia. 

Inilah kekuatan yang luar biasa dari 1%. Kemajuan 1% suka dianggap sepele oleh banyak orang, karena memang benar-benar tidak terlihat. Tapi, untuk jangka panjang, 1% kemajuan inilah yang mengubah masa depan.

Sumber foto: supplementsfix.com

4 Hukum untuk Merubah Perilaku

James memberikan 4 tips pola untuk membentuk sebuah kebiasaan yang baik: Obvious, Attractive, Easy, Satisfying. Obvious itu artinya harus jelas. Misalnya, kalau kita mau rutin makan buah. Taruh buah di atas meja, untuk mengingatkan kita untuk makan buah. Attractive artinya buat kebiasaan itu menarik. Nah, ini terimplementasi dengan baik di tempat gym. Misalnya, di treadmill biasanya ada TV, jadi apabila orang ingin nonton TV, dia dipaksa untuk berolahraga di treadmill. Easy artinya kita harus ciptakan kondisi dimana melakukan kebiasaan baik adalah hal yang mudah. Misalnya, kalau kamu mau mulai membaca, coba dengan satu hari satu lembar, bikin kebiasaan semudah mungkin, hingga kita tidak ada penolakan dalam melakukan kebiasaan tersebut. Satisfying, berikan hadiah setiap kali kamu berhasil melakukan kebiasaan baik. Misalnya, ini ibarat ketika kita masih kecil, baru boleh main game setelah PR-nya sudah selesai. 

Sumber foto: Jelleke Vanooteghem/Unsplash.com

Jangan Skip Kebiasaan Dua Kali

Jika kamu sulit merubah kebiasaan, masalahnya bukan di kamu. Mungkin selama ini, kamu belum membangun sistem yang benar. Biasanya, kebanyakan orang terlalu fokus pada goal. Padahal, sistem yang baik lebih penting dari goal itu sendiri. Hal sederhana yang bisa kamu lakukan adalah ketika kamu mulai membangun kebiasaan, jangan skip kebiasaan kamu hingga dua kali. Tentu saja, kita gak mungkin setiap saat 100% menjalankan kebiasaan baik, tapi kebiasaan butuh konsistensi untuk bisa berhasil. Jadi, ketika kamu skip kebiasaan baik kamu, jangan sampai kamu skip sampai dua kali. Misalnya, jangan skip dua kali untuk berolahraga, jangan skip dua kali untuk makan sehat. Hal ini memang tidak mudah, tapi akan jauh lebih sulit untuk membangun kebiasaan baik kalau kamu sudah skip dua kali.

Untuk versi animasinya bisa dilihat di:

Ini 3 Rahasia Ide Viral ala Penulis Bestseller Tipping Point

Membuat sesuatu menjadi viral diperlukan orang yang tepat, ide yang nempel, dan konteks yang cocok. Kombinasi ketiganya akan menghasilkan suatu ide atau produk menyentuh tipping point yang kemudian menyebar secara cepat.

Kali ini saya akan membahas buku Tipping Point karya Malcolm Gladwell. Buku ini membahas bagaimana sebuah ide bisa tiba-tiba menjadi viral setelah memenuhi beberapa kriteria tertentu. Saya pribadi sangat suka dengan buku-buku yang ditulis oleh Gladwell. Tipikal buku Gladwell ditulis berdasarkan riset ilmu sosial yang biasanya melawan mitos atau kepercayaan pada umumnya. Ditambah lagi, penulisannya dibuat ringan sehingga sangat mudah dipahami.

Tipping Point merupakan buku pertama yang diterbitkan oleh Gladwell pada tahun 2000. Sesuai dengan pembahasan di buku ini, Tipping Point merupakan buku best seller dan menurut saya, beberapa poin dari buku ini masih relevan di jaman sekarang.
Di buku ini, ada tiga hal yang membuat sebuah ide bisa viral:

Sumber foto: slideplayer.com

The Law of the Few

Gladwell menjelaskan ada tiga tipe orang yang berkontribusi sebuah ide bisa viral. Tiga tipe orang itu adalah: Mavens, Connectors, dan Salesmen. Mavens ibarat adalah data bank, sumber informasi. Connectors adalah social glue, orang yang punya jejaring yang luas. Sedangkan, Salesmen adalah persuaders, orang yang punya kharisma dan mempengaruhi orang lain. Tiga tipe orang ini, yang menurut Gladwell, berperan besar pada tren yang ada di dunia.

Di buku ini, Gladwell mencontohkan kisah klasik Paul Revere sebagai connector pada era revolusi Amerika tahun 1775. Pada suatu hari, seorang anak laki-laki mendengar pembicaraan tentara Inggris tentang serangan dari Inggris ke Concord. Saking takutnya, anak laki-laki langsung melapor kepada Paul. Kemudian, Paul melakukan perjalanan “midnight ride” dari Boston ke Lexington untuk memperingatkan serangan dari Inggris. Berita ini menyebar seperti virus dari satu kota ke kota lainnya yang dilewati oleh Paul. Di cerita ini, bukan hanya pesannya saja yang penting, tapi juga kehebatan jejaringnya Paul yang mampu menyampaikan berita ini dengan sangat baik sehingga idenya berkembang seperti virus.

sumber foto: brilio.net

The Stickiness Factor

Untuk membuat sesuatu menjadi viral, ide tersebut harus bisa nempel atau sticky. Tidak peduli seberapa besar budget iklan atau promosi, kalau idenya sendiri tidak menarik dan tidak nempel, juga tidak akan berhasil. Gladwell mencontohkan bagaimana Blue’s Clues menjadi tontonan anak terfavorit pada masanya.

Sebelumnya, produser TV telah berhasil dalam penayangan program anak Sesame Street. Namun, kali ini mereka ingin membuatnya berbeda, dengan lebih sederhana dan lebih to the point. Tentu saja, perbedaan yang dibuat sudah berdasarkan riset panjang yang telah dilakukan. Risetnya telah dilakukan pada anak preschool dan masing-masing anak diberikan teka-teki untuk melihat bagaimana perilaku mereka. Hasilnya, Blue’s Clues menjadi program anak yang fokus pada penyelesaian teka-teki dan banyak pengulangan. Mungkin bagi orang dewasa pengulangan semacam itu sangat membosankan, tapi ternyata hal itu disukai oleh anak-anak, dimana itu merupakan bagian dari proses pembelajaran mereka.

sumber foto: Getty Images

The Power of Context

Konteks atau lingkungan seseorang berpengaruh lebih besar dibandingkan dengan kepribadian orang tersebut. Konsep ini juga menganut perubahan kecil yang memicu perubahan yang besar. Gladwell mengutip broken window theory, teori kriminologis yang menjelaskan bahwa kejahatan serius seperti pembunuhan, pemerkosaan, dan perampokkan didorong oleh pelanggaran yang kelihatannya sepele seperti grafiti dan kaca jendela yang pecah.
Gladwel mencontohkan, pada pertengahan 90an di New York, tingkat kriminalitas di sana menurun secara tajam. Ternyata dibalik itu ada dua orang yaitu walikota dan kepala polisi pada masa itu yang menerapkan broken window theory. Mereka menindak tegas pelanggaran minor seperti grafiti, kencing di sembarang tempat, dan sebagainya. Dalam beberapa tahun, kejahatan serius di New York telah berkurang secara signifikan.

Untuk versi animasinya, bisa dilihat di:

Merubah Perilaku dengan Dorongan Kecil

Untuk merubah sebuah perilaku, kadang hanya butuh sebuah dorongan kecil. Dengan tidak memaksa, nudge mendorong orang untuk membuat pilihan yang lebih baik.

Kali ini saya akan membahas buku: Nudge karya Richard Thaler dan Cass Sunstein. Buku ini membahas bagaimana bisa membantu orang untuk membuat pilihan yang lebih baik. Dalam penelitian Richard dan Cass, hal sederhana bisa berpengaruh besar dalam membuat sebuah pilihan. Misalnya, dengan menggunakan piring yang lebih kecil, ternyata mampu mendorong orang untuk makan lebih sedikit.

Jadi, bagaimana cara kita menggunakan teori Nudge?

Sumber foto: worksthatwork.com

Nudge harus mudah dilakukan

Nudge adalah sebuah dorongan kecil untuk mengubah perilaku secara signifikan. Sebagai contoh, toilet pria di bandara Amsterdam cenderung bau pesing karena urinnya tumpah keluar dari urinoir. hal ini tentu saja sangat mengganggu. Suatu ketika, seorang ekonom prilaku yang bekerja di bandara tersebut menambahkan desain lalat di dekat saluran urinoir-nya. Ketika melihat ada target berupa lalat, kebanyakan pria mengarahkan urinnya ke target tersebut. Hasilnya? urin yang tumpah berkurang hingga 80%.

Sumber foto: coglode.com

Manfaatkan fungsi default

Manusia pada dasarnya memiliki inersia, artinya kecenderungan untuk diam atau males gerak. Tentu saja, hal ini harus dimanfaatkan oleh ekonom perilaku. Contoh dari pemanfaatan fungsi default dilakukan untuk dana pensiun. Daripada secara standar, orang harus memilih untuk ikut ke dalam dana pensiun. Lebih baik, orang harus memilih untuk keluar dari dana pensiun. Jadi secara standarnya adalah semua orang ikut dalam dana pensiun, apabila mereka menolak, mereka harus secara sadar memilih untuk keluar. Hasilnya? Peningkatan 33% angka partisipasi dari 63% menjadi 90% pada program 401 (k).

Sumber foto: rackspace.com

Berikan opsi yang lebih baik

Manusia bukan makhluk yang rasional. Itulah sebabnya, pelarangan bukan jalan terbaik untuk merubah perilaku seseorang. Dalam teori Nudge, kita perlu memberikan pilihan yang lebih baik untuk mempengaruhi seseorang memilih pilihan yang lebih baik. Melarang makanan cepat saja bukan termasuk Nudge, menaruh buah-buahan di sejajar pandangan mata adalah Nudge. Sebagai contoh, penelitian yang dilakukan di sekolah di New York menaruh salad bar di area yang paling ramai dan buah-buahan dekat meja kasir yang ada di kantin. Hasilnya? 13-23 persen siswa disana lebih mungkin untuk mengambil buah dan sayuran untuk makan siang mereka. Perubahan memang tidak bisa terjadi semalam, tapi ketika kita memberikan pilihan yang lebih baik, maka akan muncul perubahan besar. 

Untuk versi animasinya, bisa dilihat di:

Hidup Penuh Makna dengan Ikigai

Di dalam diri setiap orang, pasti ada Ikigai-nya. Tidak perlu terburu-buru dan nikmati prosesnya. Ada orang yang butuh waktu setahun dua tahun untuk tahu apa Ikigai-nya. Ada juga yang butuh waktu puluhan tahun untuk tahu apa Ikigai-nya. Tidak peduli waktu yang dibutuhkan, yang paling penting adalah prosesnya. Karena, bagaimanapun juga, hidup adalah sebuah perjalanan, bukan sebuah tujuan.

Continue reading Hidup Penuh Makna dengan Ikigai